Kista dan Kehamilan

    Article Index

    Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kista bisa menyerang pada anggota tubuh yang mana saja dan kepada siapa saja. Kista meskipun kadang tidak menimbulkan gejala apapun, tetapi bisa membuat seseorang menjadi was-was bahkan ketakutan. Seperti halnya bila terjadi pada wanita muda baik yang sudah menikah ataupun yang belum. Apalagi bila sudah divonis indung telurnya yang didiami kista. Maka akan timbul pertanyaan apakah masih bisa hamil? Bila kista tersebut muncul pada saat hamil, apakah tidak membahayakan kandungannya (janinnya), apa yang harus dilakukan. Berikut adalah penjelasannya.

    Penderita Kista masih bisa hamil

    Penderita kista masih memiliki peluang untuk bisa hamil. Kista yang masih kecil dan jinak tidak mempengaruhi kesuburan. Seperti kista fungsional (kista folikel dan kista korpus luteum) yang sering ditemukan menjangkiti para perempuan pada umumnya. Kista ini tidak mengganggu dan akan hilang dengan sendirinya bersamaan dengan datangnya haid. Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang pada saat menstruasi.

    Karena setiap perempuan memiliki dua indung telur, bila kista ditemukan disalah satu indung telur, maka masih ada indung telur yang lain untuk bisa hamil. Kista yang bisa menyebabkan tidak bisa hamil jika kista tersebut berubah menjadi kanker ovarium yang menyebabkan baik indung telur dan rahim harus diangkat.


    Bila Kista Muncul Disaat Hamil

    Harus diwaspadai apabila ada dugaan kista namun disertai dengan tanda-tanda awal kehamilan. Kista tersebut haruslah dideteksi secara akurat. Sebab, secara sepintas bentuk kista ovarium mirip dengan bentuk corpus luteum. Corpus Luteum adalah sisa sarang sel telur yang memang ada saat kehamilan. Apabila Corpus luteum diambil karena disangka sebagai kista ovarium (indung telur), maka bisa terjadi keguguran, karena corpus luteum berfungsi mempertahankan fungsi hormon semasa kehamilan muda. Kelak setelah plasenta terbentuk sempurna, maka fungsi ini akan diambil alih oleh plasenta.

    Bila dilakukan pemantauan melalui USG terlihat kantung besar di dalam indung telur pada awal kehamilan, belum tentu itu kista ovarium. Bisa jadi itu adalah corpus luteum. Untuk itu lebih baik jika pada kehamilan muda, tunda proses pengangkatan kista ovarium hingga kehamilan berusia 14 minggu. Karena pada saat itu corpus luteum seharusnya sudah menghilang. Tetapi jika sesudah dilakukan pemeriksaan USG, kantong tersebut masih ada, maka hal itu dapat dipastikan bahwa ibu hamil itu memang memiliki kista ovarium.

    Permasalahan akan timbul bila kista akan tumbuh besar seiring dengan pertumbuhan janin selama kehamilan. Hormon-hormon pada masa kehamilan itulah yang dapat menjadi pemicu bertambah besarnya kista. Kista dapat menyebabkan letak janin di dalam rahim menjadi abnormal. Semestinya memasuki trimester akhir, posisi janin sudah menuju jalan lahir. Namun karena terdesak oleh kista maka letaknya jadi melintang atau miring. Akibatnya, tentu saja dapat memengaruhi proses persalinan.

    Meski begitu, jangan buru-buru beranggapan kista harus segera diangkat. Pengangkatan kista bergantung dari besarnya kista dan usia kehamilan. Bila saat ukurannya mencapai 3-4 cm keberadaan kista sudah diketahui sejak dini maka dapat dilakukan pengangkatan kista saat kehamilan sudah memasuki usia 14 minggu.

    Pengangkatan kista pada usia kehamilan 14 minggu ini relatif aman sebab plasenta sudah terbentuk dengan sempurna sehingga dapat mengambil alih fungsi ovarium untuk mempertahankan hormon-hormon pada masa kehamilan. Sebaliknya, bila pengangkatan kista ditunda justru berisiko ibu mengalami keguguran bila kista pecah atau terpuntir. Karena, kondisi itu dapat menimbulkan rasa melilit dan nyeri yang sangat.

    Namun bila kista baru diketahui saat kehamilan trimester kedua sebaiknya dilakukan observasi atau pengamatan terlebih dahulu. Bila ukurannya tetap (karena posisinya sudah tertekan oleh uterus), maka pengangkatan kista (operasi) dapat dilakukan setelah melahirkan. Apalagi bila ini adalah kehamilan yang pertama bagi si ibu dan ingin melahirkan normal. Namun dalam kondisi darurat, bila tiba-tiba kista pecah, umpamanya, operasi pengangkatan harus segera dilaksanakan. Dan yang pasti pengangkatan kista ovarium pada saat hamil, tidak akan mengganggu janin (keguguran). Karena tempat janin dan kista adalah berbeda. Janin bertempat pada rahim, sedangkan kista berada pada indung telur (ovarium). Pengangkatan kista dilakukan untuk menyelamatkan janin, karena bila kista tidak diambil akan terjadi komplikasi selama kehamilan.

    Sumber : Diolah dari berbagai sumber

     


    © 2020 Mjokertocyber Media. All Rights Reserved.

    Please publish modules in offcanvas position.