Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Waspada Dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Mungkin Anda pernah merasakan kejadian seperti ini. Ketika Anda selesai makan terutama makan makanan yang pedas atau yang berlemak, Anda merasakan panas di dada, rasa mual, atau mungkin ada sesuatu di kerongkongan Anda yang mengganggu sehingga Anda ingin sekali untuk batuk. Bagi Anda yang mungkin pernah mengalaminya, menganggapnya sebagai hal yang biasa. Tapi sebenarnya, hal itu harus diwaspadai. Mungkin saja Anda mengalami  Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).    

 

Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan penyakit saluran pencernaan yang bersifat kronis. Penyakit ini terjadi ketika asam lambung atau terkadang isi lambung naik kembali ke esofagus (refluks) sehingga seseorang akan mengalami mual bahkan muntah. Akibat naiknya asam lambung maka akan mengiritasi dan membakar esofagus atau kerongkongan sehingga menimbulkan rasa panas pada dada (heartburn) sampai bagian dalam leher bahkan tenggorokan.

GERD dapat menyebabkan terjadi kerusakan pada lapisan kerongkongan sehingga memicu ulkus, perdarahan, hingga kanker.
Pada kasus yang parah, penyakit ini menyebabkan infeksi batuk kronis, asma, sinus, serta infeksi tenggorokan dan paru-paru. 


Penyebab Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Penyebab GERD sangat bervariasi, berbeda antara satu orang dengan yang lain. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu GERD.

1. Kelainan kerongkongan

Pada ujung bawah kerongkongan terdapat katup yang disebut sebagai esophageal sphincter. Katup ini akan membuka saat makanan hendak memasuki lambung namun kemudian menutup untuk mencegah makanan naik lagi ke kerongkongan. Kelainan pada esophageal sphincter menyebabkan makanan yang telah berada di lambung mengalir kembali ke kerongkongan sehingga menyebabkan apa yang disebut GERD.

2. Hernia hiatal

Dada dipisahkan dari perut dengan sebuah sekat otot yang disebut diafragma. Esophageal sphincter terletak pada level yang sama seperti diafragma. Namun dalam beberapa kasus, perut bagian atas, yang melekat pada ujung bawah kerongkongan, bergerak ke atas diafragma. Dalam kasus normal, diafragma dan esophageal sphincter sama-sama mencegah aliran makanan kembali ke kerongkongan. Tapi pada orang dengan hernia hiatus, daya penahan ini berkurang karena keduanya berada dalam level yang berbeda. Akibatnya, makanan yang sudah masuk lambung bisa mengalir kembali ke kerongkongan.

3. Kehamilan

Sebagian wanita umum mengalami GERD selama kehamilan. Tekanan tambahan pada perut seiring dengan pertumbuhan janin menyebabkan arus balik isi lambung ke kerongkongan. Penyebab lain, peningkatan kadar hormon selama kehamilan akan melemahkan fungsi esophageal sphincter. Dalam hampir semua kasus, keluhan ini akan hilang dengan sendirinya setelah melahirkan.

4. Merokok dan gastroparesis

Merokok berpotensi berkontribusi pada risiko GERD. Merokok akan memicu kerusakan pada selaput lendir, meningkatkan sekresi asam, melemahkan esophageal sphincter bagian bawah, serta mengurangi produksi air liur yang memiliki efek menetralkan asam. Gastroparesis adalah kondisi di mana makanan tetap dalam lambung lebih lama dari waktu normal. Gastroparesis memperpanjang waktu makanan berada dilambung dan dengan demikian memperburuk gejala GERD.

5. Makanan

Beberapa makanan dan kebiasaan makan dapat memicu gejala GERD. Berbaring setelah makan makanan berat dapat menyebabkan jantung terasa terbakar. Konsumsi berlebihan cokelat, bawang putih dan bawang merah, kopi atau teh, alkohol, tomat, mint, minuman bersoda dan makanan pedas berpotensi memicu munculnya gejala GERD.

6. Obesitas juga berkontribusi karena menyebabkan tekanan tambahan pada perut.

7. Makan berlebihan, stres, dan diet tinggi garam dan lemak juga mengakibatkan munculnya gejala penyakit ini.


Gejala GERD

Lebih lengkap berikut gejala-gejala GERD yang perlu Anda ketahui:

  1. Rasa terbakar di dada (heartburn), kadang-kadang menyebar sampai ke tenggorokan, bersama dengan rasa asam di mulut
  2. Nyeri dada
  3. Kesulitan menelan (disfagia)
  4. Batuk kering
  5. Suara serak dan/atau sakit tenggorokan
  6. Terasa tak nyaman / ada benjolan di tenggorokan
  7. Regurgitasi (mual-muntah) makanan atau cairan asam lambung (acid reflux)

Gejala GERD diatas tak selalu muncul semua, karena tergantung pula pada tingkat keparahannya.


Tips Mengatasi GERD

  • Hilangkan kebiasaan Anda langsung tidur setelah makan. Karena kebiasaan itu  hanya akan memperparah risiko serangan GERD. Sebab, saat tidur dalam keadaan terlentang, isi lambung akan berbalik ke kerongkongan sebelum tercerna dengan sempurna. Setidaknya, beri jarak hingga 2-3 jam setelah Anda makan.
  • Perhatikan apa yang Anda makan. Beberapa jenis makanan dan minuman dapat merangsang pengeluaran asam lambung. Misalnya, kopi dan alkohol. Sebaiknya, hindari saja.
  • Lakukan olahraga. Beberapa penelitian membuktikan bahwa berolahraga selama 30 menit minimal 3 kali dalam seminggu dapat membantu mencegah serangan panik.
  • Jangan panik. Beberapa kasus kepanikan menunjukkan adanya pola tertentu. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda bisa melatih diri Anda untuk mengatasi serangan panik yang Anda rasakan. Jika Anda masih kesulitan, itu artinya sudah saatnya Anda bertemu dengan ahlinya.
  • Stop merokok. Tembakau yang Anda isap itu dapat meningkatkan produksi asam lambung dan melemahkan fungsi katup penghubung antara lambung dan kerongkongan. Berat Badan Ideal. Usahkan berat badan pada taraf ideal, karena obesitas atau kegemukan akan memperburuk penyakit GERD. Hal ini karena lemak pada perut akan menambah tekanan pada lambung.
  • Hindari Pakaian ketat. Pakaian yang ketak disekitar perut atau pinggang berpotensi menekan lambung sehingga dapat memperburuk gejala GERD.

  Diolah dari berbagai sumber