Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Awas! Balita Anda Juga Bisa Terkena Keputihan

Bila seorang dewasa mengeluhkan terkena keputihan, hal itu dianggap sudah biasa. Tetapi apabila keputihan itu bisa menyerang anak Anda yang masih balita, apakah Anda sudah mengetahuinya? Waspadai jika Anda mengetahui anak perempuan Anda selalu menggaruk-garuk alat vitalnya karena merasa gatal. Lebih-lebih jika Anda menemukan cairan keruh di celana dalamnya. Kemungkinan Anak Anda terkena keputihan. Apa yang menyebabkan anak-anak bisa terkena keputihan dan apa pula dampaknya? Berikut penjelasannya.

Kita telah mengetahui bahwa keputihan adalah cairan yang keluar dari lubang vagina selain darah. Keputihan dibedakan menjadi dua yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Keputihan fisiologis merupakan keputihan yang normal, sedangkan keputihan patologis merupakan keputihan penyakit. Sebenarnya pada anak-anak, keputihannya adalah keputihan yang normal. Tetapi jika keputihan tersebut dibiarkan saja, akan menyebabkan komplikasi bagi anak. Karena keputihan yang tidak di obati secara tuntas dapat menjadi infeksi yang bisa menjalar ke kelenjar-kelenjar kelamin dan organ reproduksi lainnya.

Ada 2 faktor penyebab anak-anak bisa terkena keputihan, yaitu :


Faktor endogen (dari dalam tubuh).

Biasanya yang bisa menyebabkan anak menderita keputihan adalah kelainan pada lubang kemaluan. Misalnya bibir lubang kemaluan pada balita masih belum berkembang, lemaknya masih tipis, akibatnya lubang kencing dan lubang kemaluan belum terlindungi maksimal. Sehingga mudah terjadinya peradangan.

Letak lubang kemaluan dan anus pada anak-anak dan balita masih terlalu dekat, sehingga dapat menyebabkan terkontaminasinya oleh bakteri dari anus atau iritasi akibat feses (kotoran)

Kadar pH pada anak dan balita biasanya masih netral atau cenderung basa sehingga memudahkan bakteri berkembang biak.


Faktor eksogen

Jika dilihat dari faktor dari luar, dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang disebabkan oleh infeksi maupun noninfeksi.

Bila disebabkan oleh infeksi bisa disebabkan oleh bakteri (Haemophilus influenzae, Shigella eischeria coli, Chlamydia trachomatis, dan sebagainya), jamur (candida), parasit (Trichomonas vaginalis, Oxyuris enterobius vermicularis), dan cacing kremi.

Sedangkan faktor noninfeksi, bisa disebabkan masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak. Biasanya pada bayi, para orang tua suka sekali membersihkan kotoran dengan menggunakan kapas atau tisu. Nah kadang kapas atau tisu tersebut masih ada yang tertinggal. Selain itu benda asing yang masuk pada anak biasanya pasir karena anak-anak suka duduk dan bermain di manik-manik, biji-bijian, atau bubuk krayon.

Akibatnya terjadi peradangan pada vulva (lubang luar vagina) atau pada liang vagina yang kemudian menimbulkan keputihan.


Pencegahan

Untuk menghindari keputihan pada anak, usahakan pola hidup sehat pada anak. Dan perhatikan hal-hal berikut ini :

Bila Anda menganggap anak Anda sudah besar dan sudah bisa membersihkan alat vitalnya sendiri selepas buang air kecil ataupun buang air besar, beri contoh cara membersihkan alat vitalnya dengan benar dan tetap awasi. Karena membersihkan alat vital sehabis BAB atau BAK dengan benar dapat mengurangi resiko terkena keputihan.

Usahakan untuk selalu membersihkan dengan air bersih dan sabun setelah bayi atau anak Anda selesai BAB.

Keringkan daerah sekitar kemaluan sehabis BAB atau BAK. Karena daerah sekita kemaluan merupakan daerah lembab dan sering menyebabkan tumbuhnya jamur.

Untuk para orang tua, berhati-hatilah bila hendak memberikan bedak pada daerah kelamin bayi atau anak Anda sehabis mandi atau mengganti popok. Karena serbuk bedak itu merupakan benda asing yang dapat menimbulkan keputihan.

Bila ingin memberikan bedak pada lipatan paha bayi Anda, usahakan untuk menutupi lubang kemaluan bayi Anda agar serbuk bedak tidak bisa masuk.

Biasakan anak Anda untuk tidak menahan ketika ingin BAK, karena dengan air kencing yang menetes pelan-pelan pada celana dalam anak Anda dapat menyebabkan lembab, menimbulkan gatal dan akhirnya timbul iritasi pada daerah sekitar kemaluan.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber