Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Waspadai Benturan Pada Kepala Balita

Mengapa selama ini kita diminta untuk selalu melindungi kepala kita. Karena kepala terdapat organ yang sangat vital yaitu otak yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan kita. Bahkan dapat dikatakan, otak adalah pusat dari segalanya. Sayangnya masih banyak orang yang belum bisa menjaga keselamatan kepala dengan baik, terbukti masih banyak orang yang enggan memakai pelindung kepala (helm) ketika berkendara motor.

Bila kita sebagai orang dewasa sudah pasti bisa menjaga keselamatan kepala kita sendiri, tidak demikian halnya dengan anak-anak terutama balita. Dengan semua aktivitas yang dilakukan balita-balita kita, seakan-akan tidak mengerti bahaya apa yang bakal terjadi karena semuanya dianggap sesuatu hal yang menyenangkan baginya. Hingga suatu saat si anak mengalami cedera akibat terjatuh atau terbentur, apalagi bagian yang terbentur adalah kepala. Di saat itulah orang tua biasanya mengalami kepanikan dan rasa kekhawatiran yang sangat. Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan belajar bersama-sama seputar benturan pada kepala balita. Dengan mengetahui sedikit lebih banyak mengenai hal-hal apa saja yang dapat ditimbulkan akibat benturan pada kepala balita, akan membuat kita sebagai orang tua lebih waspada dan berhati-hati dalam mengawasi anak-anak kita


Benturan pada kepala atau trauma kepala dapat dibagi menjadi dua

yaitu trauma kepala yang bersifat eksternal dan internal. Trauma kepala yang bersifat eksternal mengenai bagian luar kepala (kulit kepala) sedangkan trauma bersifat internal dapat mengenai bagian dalam kepala seperti tulang kepala, pembuluh darah pada tulang kepala dan jaringan otak.

Trauma kepala eksternal dapat mengakibatkan aliran darah yang sangat hebat atau dapat mengakibatkan benjol yang baru bisa hilang dalam waktu beberapa hari bahkan minggu. Pendarahan yang banyak, dikarenakan pada kulit kepala terdapat banyak pembuluh darah, yang jika pecah sedikit saja dapat menyebabkan perdarahan. Sementara benjol terjadi akibat merembesnya darah dari pembuluh vena ke bawah kulit kepala. Sedangkan trauma internal dianggap jauh lebih berbahaya, karena dapat menimbulkan efek yang lebih serius.


Posisi Benturan

Menurut dr. Irawan Mangunatmadja, SpA dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pengaruh posisi benturan kepala bayi selain dari ada tidaknya benjolan, posisi benturan di kepala juga menentukan ringan dan beratnya cedera.

  • Benturan di bagian samping kepala, apakah kanan atau kiri, bisa berdampak sangat serius. Di bagian yang disebut daerah epidural ini terdapat pembuluh darah arteri yang menempel di tulang kepala. Kalau sampai terjadi retak/fraktur di daerah tersebut, maka pembuluh darah itu ikut robek. Akibatnya, terjadi perdarahan epidural yang biasanya sulit dihentikan karena robekan terjadi di pembuluh darah besar. Benturan yang cukup kuat di daerah temporal atau di samping dekat telinga, bisa menimbulkan gejala epilepsi/ayan
  • Benturan di bagian belakang kepala perlu diwaspadai. Di daerah ini tersimpan fungsi-fungsi vital otak, seperti pusat penglihatan. Perhatikan apakah terjadi perubahan pada fungsi mata bayi. Seharusnya, saat melihat suatu objek, bola mata bayi terlihat fokus. Jika terjadi gangguan, bisa secara tiba-tiba bola matanya bergerak ke mana-mana atau arahnya tidak fokus. Tanda lainnya, ia tidak lagi tertawa atau tersenyum ketika melihat orang-orang dekatnya. Ini berarti pusat penglihatannya terganggu atau bahkan dia tidak bisa melihat.
  • Benturan di bagian belakang kepala agak ke sebelah bawah dapat menyebabkan cedera pada otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan. Akibatnya timbul gangguan gerak yang meliputi kemampuan motorik kasar dan halus. Misalnya saja, tangan bayi gemetaran saat memegangsesuatu.
  • Benturan keras di kepala bagian bawah sekali atau tengkuk akan menyebabkan kesadaran bayi menurun. Di daerah ini terdapat batang otak yang kalau cedera dpt memicu gangguan pernapasan dan bahkan kematian. Jika sampai terjadi retakan tulang di bagian itu, maka patahan Tulangnya dapat menembus jaringan otak & melukai susunan saraf pusat. Cedera seperti ini termasuk kategori berat. Selain itu, bisa timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga. Mengatasinya harus dengan tindakan operasi. Jika tidak, perdarahan akan terus menekan jaringan otak yang pada tahap ekstrem bisa mengakibatkan kecacatan dan kematian.

Perhatikan Benjolan Setelah terbentur

Perhatikan apakah ada benjolan atau tidak. Raba kepala bayi untuk memastikannya. Kalau ada, berarti jatuhnya cukup keras. Benjolan yang muncul biasanya berwarna kebiruan. Itu mengindikasikan adanya perdarahan di bawah kulit. Untuk mengatasinya, berikan kompres air dingin agar perdarahannya terhenti. Selama kesadaran bayi masih bagus, tak ada gangguan saraf seperti bola mata jadi miring, tidak muntah, tidak tidur terus, dan tidak ada kejang, maka cederanya bisa dianggap ringan. Perlu diketahui, walaupun benturannya keras, benjolan belum tentu muncul saat itu juga. Bisa saja baru keesokan harinya, karena perdarahan yang terjadi mungkin sedikit jumlahnya, atau benjolan itu tak begitu terasa dan terlihat karena tertutup rambut. Jadi kalau setelah jatuh tak segera muncul benjolan, belum tentu benturannya ringan. Benjolan dapat muncul kapan saja dalam 48 jam pertama.

Bila cederanya ringan, benjolan makin lama akan mengecil dengan sendirinya, sebab setiap perdarahan akan diserap oleh tubuh. Kalau benjolannya makin lama makin besar maka orang tua perlu mencurigainya. Bisa saja perdarahan itu tak diserap tubuh tapi malah membentuk semacam selaput di otak. Lama kelamaan selaput ini dapat menekan jaringan otak dan menghambat perkembangannya. Perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bekuan darah dan selaput tersebut.

Ada atau tidak ada benjolan, bayi yang jatuh harus terus diamati selama 2x24 jam dan diobservasi setiap 2 jam untuk menentukan berat ringannya cedera akibat jatuh. Bila dalam kurun waktu itu suhu badannya meningkat, muntah, atau bahkan kejang, bawalah segera ke dokter. Ini berarti ada luka dalam yang lebih serius.


Gejala Gawat

Bila terjatuh, sewajarnya bayi menangis kesakitan dan rewel. Namun, ada juga yang diam saja, karena mungkin saat itu terjadi penurunan kesadaran akibat perdarahan di otak. Selain itu ada yang muntah atau naik suhu badannya. Ini berarti otak si bayi mengalami guncangan yang merangsang pusat muntah dan panas pada batang otak.

Hati-hati jika muntah atau panas baru terjadi keesokan atau beberapa hari selanjutnya. Ini menunjukkan proses keterguncangan otak cukup kuat atau terjadi perdarahan di dalam otak. Jadi bisa saja gejala gawat itu muncul secara lambat. Misalnya, pada kasus retak kepala. Awalnya mungkin tidak terjadi benjolan dan kondisi anak baik-baik saja. Baru di hari kedua anak kejang-kejang yang perlu dicurigai sebagai adanya perdarahan di otak.

Waspadai juga kalau setelah terjatuh bayi semakin lemas dan semakin menurun kesadarannya. Itulah gejala gegar otak yang disebabkan perdarahan atau pembengkakan sel saraf otak. Perdarahannya sendiri bisa terjadi di bawah kulit kepala, di selaput otak, atau di dalam otak. Bila terjadi di dalam otak, perlu tidaknya operasi akan tergantung pada jumlah perdarahannya. Bila setelah jatuh bayi langsung tak sadarkan diri dalam waktu lama (sekitar 5-10 menit), kepalanya memar, kejang-kejang, dan muntah-muntah, berarti perdarahan itu tidak hanya terjadi di daerah kulit, tapi juga di dalam otak di bawah tulang tengkoraknya. Waspadai bila gejala ini muncul, dan orang tua harus segera membawa si bayi ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.


Menghindari Jatuh

Lakukan pengamanan semaksimal mungkin di mana pun bayi berada; di tempat bermain dan terutama di tempat tidur. Boks bayi yang berpagar dan bisa dikunci biasanya sudah cukup aman. Bila bayi tidur di tempat tidur biasa, sediakan kasur tambahan di lantai untuk berjaga-jaga. Usahakan tempat tidurnya dibuat rendah, sehingga bila bayi terjatuh, benturannya tidak keras atau tidak menyebabkan cedera. Mintalah pada pengasuh atau keluarga lain yang kerap menggendongnya untuk bersikap hati-hati dan segera memberitahu bila bayi terjatuh tanpa harus takut dimarahi.


Perlukah Scanning?

Walaupun bayi tampak normal, observasi harus terus-menerus dilakukan selama dua hari tanpa perlu men-scanning kepala bayi lebih dulu. Jika makin lama benjolnya mengecil berarti sudah ada perbaikan. Namun kalau benjolnya menetap, bahkan membesar, orang tua perlu membawanya ke dokter yang biasanya menganjurkan pemeriksaan dengan CT Scan. Jadi, perlu tidaknya scanning ditentukan oleh gejala klinis yang muncul setelah benturan. Tak mesti hari itu juga bayi di-scanning, kecuali terjadi perdarahan yang cukup berarti, atau kepalanya tampak retak semacam ada tulang yang melesak ke dalam.


Akibat Benturan Kepala

Bila dalam 2x24 jam setelah terjatuh, bayi baik-baik saja, kesadarannyamasih bagus, tak mengalami gangguan saraf, tidak muntah, dan tidak kejang, maka benturannya bisa dianggap ringan dan tak berakibat apa-apa. Lain hal bila benturan berlangsung keras, ditandai dengan adanya memar, benjolan, muntah, kejang, lemas, dan pingsan dalam kurun waktu 2x24 jam, maka bukan tak mungkin cedera otak itu akan mengganggu perkembangan bayi untuk selanjutnya, termasuk risiko mengalami kelumpuhan. Namun, kejadian ini jarang terjadi kecuali telah terjadi perdarahan berat. Bagian Tubuh Yang Sering Terbentur Celakanya, bagian tubuh yang paling sering terkena benturan lebih dulu adalah kepala. Padahal, kepala adalah bagian tubuh yang sangat vital karenadi dalamnya tersimpan susunan saraf pusat atau otak.


Kapan Bayi Biasa Terjatuh

Setelah berusia 6 bulanan, bayi mulai bisa berguling-guling. Sejak saat itulah bayi rawan jatuh. Biasanya jatuh dari tempat tidur ketika dia sedang tidak ditunggui, jatuh dari gendongan, jatuh saat diayun, atau jatuh saat menjelang usia berjalan.

Diolah dari berbagai sumber