Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Anemia pada Ibu Hamil

Anemia pada kehamilan

Pada ibu hamil, meningkatnya jumlah darah selama masa kehamilan menyebabkan jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah pun secara bertahap meningkat. Oleh karena itu, ibu hamil baru dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya kurang dari 11 g/100 ml. Umumnya, yang menjadi masalah adalah produksi zat besi ibu hamil yang tidak selalu seimbang. Tetapi, kekurangan zat besi dalam darah biasanya mudah diperbaiki, antara lain dengan memberikan makanan bergizi serta mengkonsumsi pil vitamin tambahan yang mengandung zat besi. Karena itu, pada kunjungan pertama sewaktu hamil, sebaiknya dilakukan tes darah untuk mengetahui ada tidaknya anemia.

Sejak mudigah berhasil membenamkan diri ke dalam lapisan rahim dan tumbuh serta berkembang di sana, volume darah dalam tubuh si ibu secara berangsur akan meningkat atau bertambah banyak. Pertambahan volume darah itu dimulai sejak kehamilan berusia 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam usia kehamilan 32-36 minggu. Namun, bertambahnya volume darah menyebabkan jumlah plasma darah (bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah) menjadi jauh lebih banyak dibandingkan sel-sel darah. Akibatnya, darah menjadi encer. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anemia.

Meskipun akibat anemia pada ibu hamil bisa serius, tetapi tanda-tandanya tidak selalu dapat dirasakan. Sebab, bila anemia yang diderita itu ringan, gejalanya tidak akan tampak. Setelah anemia itu bertambah berat, barulah penderita akan terlihat pucat, selain juga mudah merasa lelah, lemah, denyut nadi lemah, sesak napas, dan mungkin bisa pingsan.

Jika makanan yang dikonsumsi ibu hamil seimbang, maka kekurangan zat besi akan segera teratasi. Tetapi kehamilan pada minggu ke-20, ketika kebutuhan darah semakin banyak dan janin pun semakin berkembang, maka kebutuhan zat besi juga semakin meningkat. Dalam keadaan seperti ini anemia karena kekurangan zat besi akan mulai tampak lagi.

Anemia yang dialami seorang ibu pada waktu hamil akan mempengaruhi kehamilannya, persalinan, masa nifas atau masa-masa selanjutnya. Akibat yang ditimbulkannya antara lain keguguran pada awal kehamilan, melahirkan lebih cepat dari waktunya, proses melahirkan berlangsung lama, perdarahan dalam persalinan, si ibu mengalami syok, kemungkinan mengalami infeksi setelah persalinan dan sebagainya. Selain berpengaruh pada ibu, anemia juga dapat berdampak buruk bagi janin. Misalnya cacat bawaan, cadangan zat besi dalam tubuh janin kurang, janin meninggal dalam awal perkembangannya, bayi meninggal sesaat setelah dilahirkan, atau bayi lahir dini.