Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Apakah Stres Membuat Anda Gemuk?

Sebagian dari kita, terutama yang bertubuh langsing, mungkin tak akan percaya, stres dapat membuat gemuk. Pada sebagian orang, saat stres justru tidak ingin makan. Tapi ada juga yang kebalikannya, makan banyak di saat stres. Dan ini ternyata bukan mengada-ada atau sekedar pembenaran untuk bisa makan banyak karena dasarnya memang senang makan.

 

Beberapa peneliti mengatakan, secara biologis kita mungkin cenderung menyukai makanan-makanan karbohidrat tinggi selama periode stres, dan berkemungkinan lebih besar menyimpan kalori ekstra sebagai lemak. Untungnya, kegemaran makan yang disebabkan stres dapat dicegah, begitu menurut para ahli. Kuncinya adalah memahami pengaruh stres terhadap pencernaan dan metabolisme. Lalu Anda dapat mengatur gaya hidup dan kebiasaan makan Anda pun mengikuti hal tersebut.

Hubungan stres dengan lemak

 

Ada 2 jenis stres yaitu stres yang cepat pergi dan stres yang kronik. Jenis yang pertama terjadi secara mendadak dan sesuai namanya, juga berlangsung singkat atau jangka pendek, misalnya saja saat terburu-buru takut ketinggalan kereta. Stres kronik, sebaliknya, berlangsung lebih lama dan terjadi jika Anda bekerja di bidang pekerjaan yang mempunyai tekanan tinggi atau kehidupan keluarga yang banyak tuntutan kesibukan.

 

Pada dasarnya, kedua jenis stres ini mempunyai efek yang sama. Memicu tubuh mengeluarkan adrenaline dan cortisol. Adrenaline membuat denyut jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Juga menurunkan nafsu makan sehingga pikiran Anda tidak terganggu dengan makanan ketika mencoba bergegas mengejar jadwal keberangkatan kereta. Cortisol lalu mengirimkan sinyal pada otot-otot dan sel-sel lemak untuk melepaskan karbohidrat dan lemak untuk energi kilat.

 

Jika stres cepat berlalu, episode ini segera berakhir dan tubuh kita kembali ke kondisi normal dalam beberapa menit. Tetapi sesudah sekitar 1 jam, tubuh kita akan menginginkan makanan-makanan yang mengandung nutrien ini karena tubuh kita perlu mengembalikan cadangan yang dikeluarkan.

 

Makanan-makanan karbohidrat tinggi, lemak tinggi seperti cokelat, pastry, kue-kue jenis bakery, dan keripik kentang juga mempunyai manfaat psikologis. Makanan-makanan ini meningkatkan serotonin, sejenis zat kimia otak yang membuat kita merasa rileks, yang kita perlukan di saat memulihkan diri dari kejadian-kejadian yang membuat stres.

 

Makan berlebihan yang disebabkan stres yang cepat berlalu, sesuai namanya juga cepat berakhir. Tapi jika stres itu bersifat kronik, Anda akan terus memompakan cortisol dan Anda akan terus menerus ingin makan.

 

Pada saat bersamaan, Anda juga mulai memproduksi insulin, hormon yang menyimpan setiap kelebihan kalori dari karbohidrat dan lemak sebagai lemak.  Bahkan yang lebih buruk lagi, penambahan berat badan yang disebabkan stres kronis berkemungkinan lebih besar menumpuk di bagian perut.

 

Menurut seorang ahli, sel-sel lemak di dalam perut paling responsif dalam meningkatkan cortisol karena letaknya paling dekat dengan liver dimana kalori dimetaboliskan. Celakanya, perut adalah salah satu daerah yang paling berbahaya dari tubuh dalam hal penambahan berat badan. orang-orang dengan tubuh berbentuk apel berisiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes dan kanker.