Disentri, Seberapa Berbahayakah?

Mengenal Penyakit Disentri

Apakah Anda pernah mengalami susah buang air besar, tetapi begitu keluar ternyata yang keluar darah dan lendir. Atau mungkin Anda mengalami diare sekaligus tinja Anda bercampur darah. Mungkin, yang Anda alami adalah Disentri. Ya, disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang terjadi berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan penderita kehilangan banyak cairan dan darah. Hal inilah yang membuat penyakit disentri harus diwaspadai. Apalagi penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tidak hanya orang dewasa, anak-anak bahkan balita pun dapat menderitanya. Agar kita dapat menghindari penyakit yang satu ini, tidak ada salahnya apabila kita mengenalnya lebih dekat. Berikut adalah penjelasannya.

Disentri merupakan sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang muncul seperti diare berdarah, lendir dalam tinja, dan nyeri yang dipaksakan untuk mengeluarkan tinja. Mudahnya, diare berdarah dapat digunakan sebagai penanda kecurigaan terhadap disentri. Penyebab disentri dapat berupa infeksi bakteri (disentri basiler) atau amuba (disentri amoeba). Infeksi bakteri dapat terdiri atas Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli (E. Coli) sedangkan infeksi amuba disebabkan oleh Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E.coli (EIEC). Shigella dapat dikatakan sebagai penyebab tersering disentri basiler pada anak.

Kebanyakan kuman penyebab disentri basiler ditemukan di negara berkembang dengan kesehatan lingkungan yang masih kurang. Disentri amoeba tersebar hampir ke seluruh dunia terutama di negara yang sedang berkembang yang berada di daerah tropis. Hal ini dikarenakan faktor kepadatan penduduk, higiene individu, sanitasi lingkungan dan kondisi sosial ekonomi serta kultural yang menunjang.

Gejala-gejala umum disentri antara lain adalah:


Disentri Basiler

Disentri Basiler disebabkan infeksi bakteri, diantaranya Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, dan Escherichia coli. Yang paling sering menyebabkan disentri adalah Shigella. Semua Shigella mengeluarkan lipopolisakarida yang toksik. Endotoksin ini mungkin menambah iritasi dinding usus. Selain itu Shigella dysentriae tipe 1 menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas yang dapat menambah gambaran klinik neurotoksik dan enterotoksik yang nyata.


Gejala Disentri Basiler

Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut, demam, dan tinja encer. Tinja yang encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus halus. Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi ileum dan kolon, maka jumlah tinja meningkat, tinja kurang encer tapi sering mengandung lendir dan darah. Tiap gerakan usus disertai dengan “mengedan” dan tenesmus (spasmus rektum), yang menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan orang tua, kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan kematian.

Kebanyakan orang pada penyembuhan mengeluarkan kuman disentri untuk waktu yang singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa kuman usus menahun dan dapat mengalami serangan penyakit berulang-ulang. Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang membentuk antibodi terhadap Shigella dalam darahnya, tetapi antibodi ini tidak melindungi terhadap reinfeksi


Disentri Amoeba

Disentri amoeba disebabkan oleh Entamoeba histolytica yang penyebarannya banyak dijumpai pada daerah tropis dan subtropis terutama pada daerah yang sosio ekonomi lemah dan hugiene sanitasinya jelek. Penyebarannya melalui makanan yang terinfeksi serta kontak seksual. Bila tidak diobati dengan tepat dapat menjadi sistemis dan menjalar ke organ-organ lain, khususnya hati.
Entamoeba histolytica mempunyai dua bentuk yaitu bentuk yang tidak bergerak (kista) dan bentuk yang bergerak. Bentuk yang bergerak inilah yang menimbulkan gejala mulas, perut kembung, demam, serta diare yang mengandung darah dan lendir.

Gejala disentri amuba meliputi:


Gejala-gejala disentri amuba biasanya berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Namun, tanpa pengobatan, bahkan jika gejala hilang, amuba dapat terus hidup di usus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Infeksi masih dapat ditularkan kepada orang lain dan diare masih bisa kembali. Bahayanya penyakit desentri amuba dapat bersifat fatal bila terjadi komplikasi antara lain usus berlubang (perforasi usus), infeksi selaput rongga perut (peritonitis), abses di hati dan otak. Dan bila infeksi amuba ini tidak diobati secara tuntas, dapat mengakibatkan kematian.


Menangani Disentri


Mencegah disentri

Diolah dari berbagai sumber