Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Balita Rawan Gangguan Tidur


Bagi anak-anak, tidur yang berkualitas diyakini ikut mempengaruhi otak. Sayangnya, ada beberapa gangguan tidur yang mungkin dialami si kecil. Ada banyak faktor gangguan tidur pada anak. Penyebab paling banyak gangguan tidur bermula dari rasa gelisah dan ketidaknyamanan saat berangkat tidur. Gangguan tidur yang lain, salah satunya adalah berjalan saat tidur (sleepwalking). Pada kondisi tersebut, seseorang sering berjalan saat tidur lelap. Pengidapnya tidak mengingat kegiatan uang dilakukan kala tidur. Selain itu ada mengigau atau berbicara waktu tidur. Kebiasaan itu disebut somniloquy atau sleep-talking. Saat tertidur, akan terucap kata-kata atau hanya gumaman yang tidak jelas. Tapi biasanya, setelah lima tahun gejala itu akan hilang dengan sendirinya.

Gangguan tidur sebenarnya tidak berpengaruh langsung pada tumbuh kembang anak. Potensi kecerdasan juga tidak akan berkembang. Namun, berkurangnya waktu tidur membuat anak mudah mengantuk dan lesu. Bila sering mengantuk, bisa menyebabkan anak sulit berkonsentrasi. Sehingga hal ini dalapat menjadi kendala bagi anak-anak yang sudah belajar di sekolah. Atau bisa jadi, anak akan sering tertidur di dalam kelas.

Sebenarnya, kebutuhan anak untuk tidur berbeda-beda. Itu bergantung pada usia. Bayi baru lahir belum punya jadwal tidur, bahkan bisa tidur hingga 22 jam per hari. Menginjak usia 3-6 bulan, bayi tidur sepanjang malam dan terbangun saat siang. Keadaan tersebut makin stabil pada usia 9 bulan. Jumlah waktu tidur makin berkurang dari sekitar 13 jam pada usia tiga tahun menjadi 11 jam pada usia lima tahun. Pada usia sekolah dasar, anak sering tidak tidur siang tetapi mudah tidur malam.

Lalu apa sebenarnya efek dari tidur bagi anak-anak? Efeknya tergolong sangat fantastik. Mereka lebih termotivasi untuk berprestasi, merespon baik terhadap pelajaran, dan memiliki image positif terhadap diri sendiri.

Agar pola tidur terbentuk dengan baik, orang tua seharusnya mengenali kebiasaan tidur sejak bayi. Yang pertama, tenang. Kedua, tidak membiasakan menidurkan anak dalam gendongan. Biasakan mengantar anak sebelum tidur dalam keadaan sadar. Bacakan dongeng dan ajaklah berdoa sebelum tidur. Hal itu akan membuat si kecil percaya pada lingkungan. Dan rasa aman menjelang tidur membantu anak mendapatkan tidur berkualitas. Dan satu lagi yang harus diperhatikan adalah ketiduran bukanlah tidur yang berkualitas. Meskipun sama-sama tidur secara fisik, dampak psikologis tidur dan ketiduran sangat berbeda. Ketiduran merupakan manifestasi rasa lelah tak tertahan sehingga mata terpejam tanpa kontrol.

Oleh: Prof. dr. Moersintowarti B. Nerendra Msc SpA(K), spesialis anak dari RSU dr Soetomo Surabaya.