Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Obesitas Mengganggu Menstruasi

Big is beautiful. Itu kata sebagian orang terutama wanita yang menganggap bahwa tubuh gemuk itu indah. Atau dengan kata lain bertubuh gemuk tidak masalah. Mungkin dari segi penampilan tidak akan ada masalah tapi apakah dari segi kesehatan juga tidak akan menimbulkan masalah. Karena kegemukan secara berlebihan atau yang dikenal dengan istilah obesitas mempunyai kecenderungan terhadap peningkatan risiko terserang berbagai penyakit dan gangguan kesehatan. Salah satunya adalah adanya gangguan menstruasi. Sebagai seorang wanita yang mengalami gangguan haid atau menstruasi pasti akan timbul perasaan takut karena hal ini berkaitan dengan masalah kesuburan. Mengapa faktor kegemukan dapat mempengaruhi kesuburan seseorang, dan apa yang harus dilakukan agar masalah ini dapat terselesaikan, berikut penjelasannya.

Secara medis memang faktor kegemukan pada wanita termasuk salah satu penghambat kesuburan, selain karena faktor hormonal juga ikut berpengaruh. Perubahan hormonal atau perubahan pada sistem reproduksi bisa terjadi akibat timbunan lemak pada perempuan obesitas. Timbunan lemak itu memicu pembuatan hormon, terutama estrogen.

Normalnya, pada usia reproduksi calon hormon estrogen ini berasal dari ovarium. Selain sebagai penghasil gamet atau ova, ovarium juga berperan sebagai organ endokrin karena menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Hanya saja, pada wanita yang obesitas, estrogen ini tidak hanya berasal dari ovarium tapi juga dari lemak yang berada di bawah kulit.

Hal inilah yang menyebabkan keluarnya luitenizing hormone (LH) sebelum waktunya. LH yang terlalu cepat keluar menyebabkan telur tidak bisa pecah dan progesteron tidak terangsang, sehingga pada suatu waktu siklusnya menjadi berantakan. Kejadian ini bisa dilihat dari siklus haid yang tidak teratur, jumlah haid yang keluar cukup banyak, dan juga masa haid yang lebih lama.

Luitenizing Hormone yang keluar terlalu cepat akan merangsang keluarnya hormon progesteron dan androgen. Pada siklus normal, hal ini tidak terlalu masalah, karena hormon androgen akan diubah menjadi estradiol. Tetapi pada perempuan obesitas, androgen yang keluar terlalu cepat tidak akan diubah menjadi estradiol. Hal ini dikarenakan hormon androgen yang keluar itu yang tidak berikat. Inilah yang akan membuat sel telur tidak berkembang. Akibatnya ovulasi tidak terjadi.

Tingginya hormon androgen pada perempuan bisa dikenali dengan berkembangnya seks sekunder. Yaitu timbulnya kumis, tumbuhnya bulu yang banyak, dan timbulnya banyak jerawat. Metabolisme karbohidrat yang terjadi juga akan diubah menjadi lemak, sehingga orang akan semakin gemuk. Selain itu pada penderita obesitas akan timbul insulin resistance. Dimana insulin tidak mampu memasukkan gula secara benar ke ovarium, karena reseptornya ada yang rusak. Sehingga pertumbuhan sel telur juga menjadi tidak bagus atau bahkan akan berhenti. Inilah yang disebut sebagai ovarium polikistik.