Perisaikan Buah Hati dari Pneumonia

    Article Index

    Pneumonia menjadi penyebab utama kematian bayi dan balita. Penyakit yang satu ini, senantiasa mengintai buah hati di mana pun dan kapan pun, terutama pada tahun-tahun awal kehidupannya. Pada tahun 2003 tercatat hampir sejuta anak di dunia meninggal akibat pneumonia. Di Asia Pasifik, sebanyak 98 balita meninggal karena pneumonia setiap jam. Pantas saja kemudian badan kesehatan dunia WHO menjuluki pneumonia sebagai The forgotten killer of children, pembunuh yang terlupakan.

    Pneumonia merupakan bagian dari invasive pneumococal dissease (IPD), yakni sekelompok penyakit yang disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae atau bakteri pneumokokus yang menyebar melalui darah dan bersifat merusak (invasif). WHO menyebutkan, penyebab utama pneumonia sebesar 50% karena bakteri pneumokokus, 30% karena haemophillusinfluenzae tipe B (Hib), serta sisanya adalah virus dan penyebab lainnya.

    Selain pneumonia, dua penyakit lain yang juga dikategorikan IPD adalah infeksi darah (bakteremia), sepsis (darah yang teracuni), dan radang selaput otak (meningitis). Kali ini, kita akan membahas tentang pneumonia yang merupakan bagian dari IPD, untuk bakteremia, sepsis dan meningitis akan dibahas di lain kesempatan.

    Ditinjau dari angka kejadian penyakit, IPD menyebabkan sekitar 2 juta kematian per tahun. Sebanyak 700 ribu hingga 1 juta di antaranya balita. Namun, perhatian masyarakat untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pneumonia belum merata.


    Bagaimana IPD Menular?

    IPD sangat mudah menyebar karena bakteri pneumokokus hidup normal di dalam hidung dan tenggorokan bayi dan balita (terbanyak), anak, hingga orang dewasa sehat sekalipun. Penularan dapat terjadi melalui percikan ludah atau udara bebas.

    Gejala pneumonia: panas tinggi, lemas, batuk, sesak napas, sakit dada, muntah dan lesu.


    Upaya untuk mencegah IPD?

    Penyakit apapun lebih menyerang pada kondisi daya tahan tubuh yang menurun. Bayi yang baru lahir hingga umur 2 tahun berisiko tertinggi terkena IPD karena tingkat sirkulasi antibodi terhadap kuman pneumokokus masih rendah. Makin dini usia anak, makin besar peluang terserang IPD. Pencegahan dilakukan melalui pemberian ASI ekslusif, gizi seimbang, higienitas lingkungan, serta menghindarkan polusi, seperti asap rokok.

    Selain itu, upaya melawan IPD digalakkan melalui pemberian vaksin PCV7 (Pneumococcus Conjugate Vaccine 7 valent) dan Hib. Upaya ini sudah menjadi program imunisasi nasional di banyak negara. Namun, vaksin ini belum merata di sejumlah negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

    Di indonesia, PVC7 memang belum dikategorikan sebagai imunisasi wajib, mengingat harganya yang mahal. Namun, vaksin ini telah masuk jadwal imunisasi yang direkomendasikan IDAI untuk diberikan ketika bayi berumur 2, 4 dan 6 bulan.


    Keuntungan Vaksin PCV7

    Selain melindungi individu masyarakat dengan terbentuknya herd immunity, yaitu ketahanan kelompok terhadap serangan penyakit di mana sebagian besar anggotanya bersifat imun. Jadi jika seorang bayi divaksin, secara tidak langsung anggota keluarga yang lain yang tinggal bersamanya juga ikut terlindungi.

    Sumber: Koran Sindo


    © 2020 Mjokertocyber Media. All Rights Reserved.

    Please publish modules in offcanvas position.