Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Artikel Kesehatan

Eksim Pada Balita - Jenis-jenis eksim

Jenis-jenis eksim

Pada dasarnya, ada bermacam-macam eksim. Tetapi yang sering terjadi pada balita umumnya hanya 3 jenis eksim, yaitu eksim susu (dermatitis atopik), sarap (dermatitis seboroika), dan eksim popok.

Eksim Susu (dermatitis atopik)

Bagian tubuh bayi yang biasa terkena eksim susu adalah pipi. Selama ini, orang awam menyangka penyebabnya adalah susu, sehingga menyebutnya eksim susu. Padahal, penyebabnya bukan itu. Eksim jenis ini lebih sering dihubungkan dengan kepekaan bawaan bayi yang disebut atopi, sehingga disebut dermatitis atopik.

Eksim susu mengenai bayi yang berusia 2 bulan, lalu akan sembuh sendiri pada saat bayi tersebut berusia 2 tahun. Eksim yang terjadi pada usia ini disebut juga bentuk bayi (infatil). Eksim infatil bisa kambuh dan hilang lagi pada usia-usia tertentu. Gejala eksim susu sama seperti gambaran stadium akut, yaitu polimorfi, membasah dan berbatas tak tegas. Selain di daerah pipi, eksim susu juga dapat mengenai daerah lain seperti tengkuk, kedua lipat siku dan lipat lutut. Pada anak diatas usia 2 tahun yang disebut eksim bentuk anak, kelainan kulit yang terjadi mulai berubah. Kulit tidak membasah lagi, bahkan mulai menebal, dan garis-garisnya tampak makin jelas. Jadi sesuai dengan gambaran stadium menahun. Warna kulit pun mengalami perubahan, biasanya memutih akibat kurang pigmen. Selain kulit penderita tampak kering, ambang rasa gatal merendah, sehingga anak mudah mengalami gatal-gatal, terlebih jika berkeringat.

Sarap (dermatitis seboroika)

Sarap atau dermatiotis seboroika berhubungan erat dengan keaktifan kelenjar palit. Kelenjar ini yang mengeluarkan bahan seperti minyak disebut sebum. Daerah-daerah tubuh yang banyak terdapat kelenjar palit seperti kulit kepala, merupakan tempat bersemayamnya jenis eksim ini.

Pada bayi baru lahir, terdapat banyak kelenjar palit dengan pengeluaran sebum yang banyak. Itu sebabnya, penyakit ini bisa mengenai bayi pada usia 2-10 minggu. Umumnya, penyakit ini akan sembuh sendiri pada saat usia 8-12 bulan dan tidak kambuh lagi sampai usia akil baligh. Kelainan kulit yang terjadi bisa disertai sedikit atau tanpa rasa gatal. Kelainan ini sering dimulai dengan timbulnya kemerahan di kulit kepala yang berambut, disertai sisik-sisik. Sisik tersebut dapat berminyak dan berwarna kekuningan. Jika penyakitnya berat, seluruh kulit kepala yang berambut akan tertutup oleh sisik dan kerompeng yang tebal, kotor serta berbau tidak sedap. Dermatitis seboroika juga dapat timbul di daerah bokong dan sekitarnya. Kelainan kulit yang terjadi biasanya berupa bercak-bercak bulat atau lonjong yang berbatas tegas, dan tertutup sisik-sisik tebal berminyak dan berwarna kekuningan. Eksim ini juga dapat meluas ke dahi, liang telinga bagian luar, telinga bagian belakang, alis, lipatan hidung-mulut, dada bagian tengah atas, punggung bagian tengah atas (antara kedua tulang belikat), daerah pusat, anggota gerak bagian dalam, daerah lipatan (ketiak, lipatan paha, lipatan alat kelamin) dan dubur.

Jika kelainan kulit ini mengenai seluruh bagian tubuh bayi, disebut penyakit Leiner. Seluruh tubuh akan berwarna kemerahan (eritema), dan dipenuhi sisik-sisik. Bayi penderita penyakit ini juga dapat terinfeksi kuman dan jamur candida. Infeksi jamur ini sering mengenai daerah lipatan paha, alat kelamin dan dubur.

Eksim popok

Sesuai namanya, eksim ini biasanya timbul di daerah yang ditutupi popok. Daerah tersebut adalah bagian cembung bokong, alat kelamin, dan paha. Kelainan kulit yang tampak adalah kemerahan teritema yang disertai bintil-bintil dan tukak-tukak (ulkus). Penyakit ini biasanya mengenai anak usia 0-2 tahun. Umumnya, banyak terjadi di usia 7-9 bulan.

Eksim popok merupakan salah satu bentuk dermatitis kontak iritan seperti bila terlalu sering dan lama kontak kulit dengan air seni atau tinja. Air seni dan tinja mengandung zat atau bahan yang bersifat merangsang kulit. Selain itu, tinja bayi biasanya lembek dan cair, sehingga dapat menyebabkan kulit menjadi lembab. Gesekan antara kulit dengan kulit di daerah lipatan pada bayi dapat menyebabkan lecet atau luka. Akibatnya, kulit si kecil yang eksim ini mudah mengalami infeksi bakteri ataupun jamur. Jamur tersebut dapat menembus lapisan tanduk kulit dan menyebabkan peradangan yang berat.