Mendeteksi Kanker Limfoma

Mengenal Limfoma

Saya baru mengetahui apa itu kanker kelenjar getah bening, setelah ayah saya mengalaminya. Benjolan yang semula kecil di daerah leher, tiba-tiba menjadi besar dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Dan karena harus dilakukan biopsi untuk mengetahui jaringan dalam benjolan tersebut terdapat sel kanker atau tidak, menyebabkan benjolan tersebut menjadi luka yang menganga yang setiap saat dapat mengeluarkan darah. Luka pada leher tidak dapat dioperasi karena sudah tidak memungkinkan lagi, dan bila melakukan kemoterapi dibutuhkan biaya dan kesiapan mental tidak hanya pada ayah tapi juga kami sekeluarga. Dan akibat kanker kelenjar getah bening inilah ayah saya kembali menghadap yang maha kuasa.

Saya benar-benar tidak tahu apa yang menjadi penyebab kanker kelenjar getah bening itu. Karena kurangnya informasi kami sekeluarga juga tidak bisa memberikan pengobatan secara maksimal kepada ayah. Dan kini setelah 14 tahun berpulangnya ayah, saya temukan jawabannya. Dan saya ingin membagi pengetahuan ini dengan Anda semua.

Kelenjar getah bening merupakan merupakan suatu kumpulan limfosit berukuran sebesar kacang yang tersebar di seluruh tubuh. Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya didaerah submandibular (bagian bawah rahang bawah), ketiak atau lipat paha yang teraba normal pada orang sehat.


Secara umum, limfoma diklasifikasikan menjadi 2 kelompok besar, yaitu :

Limfoma Hodgkin. Limfoma ini ditemukan oleh Thomas Hodgkin pada tahun 1832. Pada lymphoma Hodgkin sel-sel dari sistem limfatik bertumbuh secara abnormal dan dapat menyebar ke luar sistem limfatik. Jika penyakit ini semakin berkembang, maka akan mempengaruhi fungsi pertahanan tubuh penderitanya. Pada penyakit ini ditemukan perkembangan sel B abnormal atau dinamakan sel Reed-Sternberg (sel B adalah salah satu jenis sel limfe yang berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh yang memproduksi antibodi).

Limfoma non-Hodgkin. Pada limfoma jenis ini penyakit berkembang dari limfosit (salah satu jenis sel darah putih). Pada keadaan normal limfosit akan mengalami suatu siklus. Limfosit yang tua akan mati dan tubuh membentuk limfosit yang baru. Pada limfoma non-Hodgkin tubuh membentuk limfosit yang abnormal yang akan terus membelah dan bertambah banyak dengan tidak terkontrol. Limfosit yang bertambah banyak ini akan memenuhi kelenjar getah bening dan menyebabkan pembesaran. Keganasan ini dapat timbul pada berbagai lokasi di tubuh. Umumnya akan timbul sel kanker di kelenjar getah bening, dan dapat menyebar ke organ limfatik lainnya, termasuk pembuluh limfe, tonsil, adenoid, limpa, kelenjar timus, dan sumsum tulang. Kadang-kadang limfoma non-Hodgkin melibatkan organ lain di luar sistem limfatik. Insiden limfoma non-Hodgkin secara global 7 kali lebih sering dibandingkan limfoma Hodgkin.

Limfoma merupakan kanker yang mempengaruhi sel-sel yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan terutama sel yang terlibat dalam sistem limfatik tubuh. Sistem limfatik merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sistem ini terdiri dari jaringan pembuluh yang membawa cairan yang disebut getah bening, mirip dengan jaringan pembuluh darah membawa darah ke seluruh tubuh. Getah bening mengandung sel-sel darah putih yang disebut limfosit. Limfosit menyerang berbagai agen infeksi serta banyak sel pada tahap prakanker pembangunan.

Limfosit bertugas untuk mengenali benda-benda asing atau yang dianggap membahayakan dan sekaligus untuk menghancurkan benda asing tersebut. Ada dua subtipe utama limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T, juga disebut sebagai sel B dan sel T. Sel B bertugas untuk memproduksi antibodi yang gunanya untuk mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk. Sedangkan sel T bila diaktifkan akan membunuh patogen secara langsung.

Kanker limfoma terjadi ketika sel-sel normal mengalami perubahan dimana mereka tumbuh dan berkembang biak tak terkendali, terutama terjadi transformasi pada pertumbuhan sel B dan T.

 


Penyebab Limfoma

Penyebab pasti terjadinya limfoma belum diketahui . Beberapa faktor telah dihubungkan dengan peningkatan risiko limfoma, tetapi tidak jelas apa peran mereka dalam perkembangan aktual limfoma. Faktor-faktor risiko antara lain:

Umur: Secara umum risiko Limfoma Non Hodgkin meningkat seiring dengan usia lanjut. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin pada lansia dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk daripada yang diamati pada pasien yang lebih muda.


Infeksi, diantaranya yaitu


Gejala dan Tanda


Gejala limfoma dapat mencakup sebagai berikut:

 


Diagnosis

Sebagian orang penderita penyakit ini mungkin tidak menyadari bahwa dirinya menderita limfoma. Pada limfoma Hodgkin kadang ditemukan dari adanya temuan pada pemeriksaan rontgen dada untuk indikasi lain. Diagnosis ditegakkan dari biopsi kelenjar getah bening yang membesar. Jika hasil biopsi ditemukan perubahan bentuk kelenjar getah bening dan adanya sel Reed-Sternberg, maka hal tersebut memastikan diagnosis. Pemeriksaan penunjang lainnya yang mungkin dibutuhkan untuk diganosis maupun untuk melihat perluasan / keterlibatan organ lain adalah : rontgten, CT-scan, MRI, Gallium scan, PET scan, biopsi sumsum tulang, dan pemeriksaan darah. Limfoma Hodgkin dapat dibagi menjadi 2 yaitu Tipe A bila penderita tidak mengalami gejala demam, berkeringat dan penurunan berat badan. Sedangkan tipe B bila penderita mengalami gejala demam, berkeringat dan mengalami penurunan berat badan.

Sedangkan pada Limfoma non Hodgkin dapat dilihat melalui pemeriksaan laboratorium untuk melihat kemungkinan timbulnya penyakit akibat infeksi, karena infeksi juga dapat menimbulkan pembesaran kelenjar getah bening. Selain juga dilakukan biopsi dan pemeriksaan penunjang lainnya yang hampir sama dengan Limfoma Hodgkin, juga dilakukan pemeriksaan laboratorium immunophenotyping yang dapat membedakan limfoma non-Hodgkin jenis sel B atau sel T.


Dari tingkat keparahannya, Limfoma dibagi menjadi 4 stadium, baik untuk Limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin serupa yaitu :


Terapi

Limfoma ditangani oleh dokter spesialis hematologi-onkologi dan mungkin dirujuk ke dokter spesialis lainnya jika dibutuhkan.

Pada Limfoma Hodgkin,

terapi yang diberikan tergantung pada beberapa faktor, seperti stadium penyakit, jumlah dan daerah mana saja kelenjar getah bening yang terlibat, usia, gejala yang dirasakan, hamil/tidak, dan status kesehatan secara umum. Tujuan terapi adalah menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin dan mencapai remisi.

Pilihan terapinya adalah :

Pada Limfoma non Hodgkin,

terapi yang diberikan juga ditentukan berdasarkan tipe dan stadium penyakit, usia, dan status kesehatan secara umum.

Pilhan terapinya yaitu :


Pencegahan

Tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah limfoma. Sebuah rekomendasi standar adalah untuk menghindari faktor risiko untuk penyakit ini. Namun, beberapa faktor risiko untuk limfoma tidak diketahui, dan karena itu tidak mungkin untuk menghindari. Infeksi virus seperti HIV, EBV, dan hepatitis merupakan faktor risiko yang dapat dihindari dengan sering mencuci tangan, mempraktekkan hubungan suami istri yang aman , dan dengan tidak berbagi jarum, pisau cukur, sikat gigi, dan barang-barang pribadi yang serupa yang mungkin terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi atau cairan .


Mencermati Pencetus Kanker

Para ahli di Amerika menemukan salah satu kemungkinan penyebab kanker limfoma adalah adanya intake tinggi lemak-lemak trans, yang sudah terbukti juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Dalam penelitian terhadap 88.410 perempuan, yang paling banyak makan lemak trans (sekitar 5,7 gram/hari) mempunyai risiko 2 kali lebih tinggi terserang limfoma dibanding mereka yang makan paling sedikit (sekitar 2,4 gram/hari). Lemak trans itu yang bagaimana? Lemak trans banyak digunakan dalam biskuit misalnya cracker, cake, pie, dan cookies siap beli. Untuk lebih aman, setiap kali ingin membeli biskuit yang siap beli, lebih baik baca bahan kandungan terlebih dahulu. Hindari produk yang didalamnya mengandung 'Partially Hydrogenated Oil' yang merupakan sumber lemak trans.

 

Sumber : Diolah dari berbagai sumber