Azzam Rumah Herbal

Menyingkap Informasi Herbal dan cara menanamnya

Menanam Stroberi dengan sistem hidroponik

Budidaya stroberi hidroponik merupakan salah satu alternatif untuk membudidayakan buah stroberi terutama pada lahan sempit seperti diperkotaan atau pada lahan terbatas. Dengan sistem hidroponik, tanaman stroberi dapat diatur kondisi lingkungannya seperti suhu, kelembapan relatif dan intensitas cahaya, bahkan faktor curah hujan dapat dihilangkan dan serangan hama penyakit dapat diperkecil dengan menggunakan green house dan faktor lainnya.

Budidaya stroberi hidroponik dapat  menjadi alternatif bisnis anda. Tanaman stroberi hidroponik sebaiknya menggunakan naungan rumah kaca atau rumah kasa. Bagaimana cara membudidayakan stroberi hidroponik?

 

Perbanyakan Tanaman

Perbanyakan dengan stolon

Stroberi diperbanyak secara cara vegetatif dengan menggunakan sulur atau stolon. Sulur adalah batang khusus yang timbul dari ketiak daun.  Sulur tumbuh sejajar dengan tanah dan membentuk tunas anakan pada setiap ruas. Pada setiap buku tunas anakan muncul akar dan tumbuh menjadi tanaman baru.  Dari setiap tanaman induk dapat diperoleh 20 pohon untuk dijadikan bibit.  Jika bibit telah tumbuh dan mempunyai 4-5 helai daun maka dapat dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 15x15 cm.  Sebelum dipindahkan bibit harus diseleksi terlebih dahulu yaitu dipilih bibit yang sehat dan kuat.  Dua bulan kemudian sulur tersebut siap untuk dipindahkan ke kebun (Herlinayanti, 2003).

 

Perbanyakan Secara In Vitro

 

Stroberi termasuk salah satu tanaman yang mudah diperbanyak dengan teknik in vitro.  Dari satu pucuk meristem berukuran 0,5-0,7 mm dapat dihasilkan 15-20 pucuk perminggu.  Dari 15 pucuk yang diperoleh dapat dibagi menjadi 7-8 kelompok, masing-masing terdiri dari dua pucuk.  Dalam waktu 6-8 minggu kelompok baru akan kembali membentuk sejumlah pucuk.  Kemudian pucuk-pucuk tersebut kembali dipecah dalam beberapa kelompok hingga menghasilkan ribuan tanaman (Gunawan, 1996). 

Persiapan tanam

Gunawan (2008) hal penting dalam sebelum melakukan penanaman dalam greenhouse adalah sterilisasi greenhouse. Sterilisasi dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan seluruh greenhouse dari mikroorgnisme (telur/larva, virus, bakteri dan fungi) yang dapat merugikan tanaman. Ada beberapa bahan yang dapat digunakan dalam sterilisasi antara lain; lysol, formalin dan beberapa jenis pestisida, dengan cara:

Formalin 5% disemprotkan ke seluruh bagian greenhouse dengan konsentrasi 5 cc/liter air

Dalam waktu 4-5 hari setelah penyemprotan formalin disusul dengan penyemprotan pestisida (insektisida dan fungisida) dan diulang sampai 2-3 kali.

Sehari sebelum media tanam ditata, greenhouse disemprot dengan larutan lysol dengan konsentrasi 3-5 cc/ liter air.

Instalasi bak desinfektan kaki supaya penyakit tidak bisa dibawa ke dalam greenhouse.

Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan air dan unsur hara selalu tersedia (Anonymous, 2009a). Sedangkan tanaman stroberi yang ditanam dalam ruang tertutup (greenhouse) dapat menggunakan media rockwool atau arang sekam. Rockwool adalah batu gamping, yang dicampur dengan serat benang yang diolah pada suhu tinggi (600º C).  Arang sekam berasal dari kulit padi yang dibakar.  Kedua media tanam tersebut dipakai untuk penanaman secara hidroponik.  Pada umumnya arang sekam lebih umum digunakan petani untuk penanaman stroberi kerena tidak mengikat hara.  Sehingga nutrisi yang diberikan kepada tanaman dapat dikontrol dan tidak merusak akar saat tanaman dipindahkan (Budiman dan Desi, 2005).

 Pemberian Nutrisi

Pada sistem budidaya hidroponik unsur hara esensial yang diperlukan tanaman disediakan dalam bentuk larutan/nutrisi. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara (Anonymous, 2009b). Salah satu kesulitan didalam penyiapan larutan hara ini adalah belum diketahuinya dosis unsur hara yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Pada dosis yang terlalu rendah pengaruh larutan hara tidak nyata, sedangkan pada dosis yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan tanaman mengalami plasmolisis, yaitu keluarnya cairan sel karena tertarik oleh larutan hara yang lebih pekat (Wijayani, 2000; Marschner, 1986).

Pemupukan dan Penyiraman (fertigasi) pada budidaya sistem hidroponik umumnya dilakukan secara bersamaan. Teknis fertigasi dapat dilakukan dengan manual atau sistem irigasi tetes (Drip irrigation system). Akan tetapi teknis fertigasi terbaik adalah dengan sistem irigasi tetes karena fertigasi dapat diberikan secara merata, meminimalisir tenaga kerja, menghemat waktu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistem irigasi tetes yaitu; kualitas air (sumber air) harus bersih dan bebas dari penyakit dan bahan kimia, kualitas nutrisi dengan komposisi hara harus dengan kebutuhan tanaman dan mempunyai kemampuan larut 100 %, waktu, volume dan frekuensi fertigasi dan jenis media yang digunakan (Gunawan, 2008).

Terdapat beberapa faktor penting dalam menentukan formula nutrisi hidroponik diantaranya adalah :

Menggunakan garam yang mudah larut dalam air.

Meminimalisir kandungan sodium, khlorida, amonium dan nitrogen organik unsur unsur yang tidak dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Menggunakan komposisi garam yang tidak bersifat antagonis satu dengan yang lainnya.

Tabel 1. menunjukkan jenis garam yang direkomendasikan untuk larutan nutrisi hidroponik.

           Unsur hara makro seperti N, P, K, dan Mn harus dijaga pada konsentrasi rendah dalam larutan. Konsentrasi yang tinggi dalam larutan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hara. N untuk larutan hidroponik disuplai dalam bentuk nitrat.    N dalam bentuk ammonium nitrat mengurangi serapan K, Ca, Mg, dan unsur mikro. Kandungan amonium nitrat harus di bawah 10 % dari total kandungan nitrogen pada larutan nutrisi untuk mempertahankan keseimbangan pertumbuhan dan menghindari penyakit fisiologi yang berhubungan dengan keracunan amonia. Konsentrasi fosfor yang tinggi menimbulkan defisiensi Fe dan Zn, sedangkan K yang tinggi dapat mengganggu serapan Ca dan Mg (Rosliani dan Nani, 2005).

Rosliani dan Nani (2005) menyatakan bahwa unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Fungsi unsur mikro adalah untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit atau hama. Kekurangan Mn menyebabkan tanaman mudah terinfeksi oleh cendawan Pythium. Tembaga (Cu) dan seng (Zn) dapat menekan pertumbuhan mikrobia, tetapi pada konsentrasi lebih tinggi menjadi racun bagi tanaman. Formula nutrisi yang berbeda mempunyai pH yang berbeda, karena garam-garam pupuk mempunyai tingkat kemasaman yang berbeda jika dilarutkan dalam air. Garam-garam seperti monokalium fosfat, memiliki tingkat kemasaman yang lebih  lebih rendah dibandingkan dengan kalsium nitrat. Tanaman stroberi  pada kultur hidroponik membutuhkan pH larutan antara 5,8 sampai 6,5 (Gunawan, 1996).

Pengontrolan larutan nutrisi yang diberikan  pada sistem hidroponik dilakukan  melalui electro conductivity (EC) menggunakan alat EC meter. electro conductivity (EC)  diperlukan untuk mengetahui cocok tidaknya larutan nutrisi untuk tanaman.  Semakin tinggi garam dalam air, electro conductivity (EC) akan semakin tinggi. Konsentrasi garam yang tinggi dapat merusak akar tanaman dan mengganggu serapan nutrisi dan air. Setiap jenis dan umur tanaman membutuhkan larutan dengan electro conductivity (EC)  yang berbeda-beda. Kebutuhan electro conductivity (EC)  berbanding lurus dengan fase pertumbuhan tanaman. Selain itu, Kebutuhan EC dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti suhu, kelembaban, dan penguapan. Jika cuaca terlalu panas, sebaiknya digunakan EC rendah (Rosliani dan Nani, 2005).