Sahabat Azzam Rumah herbal, selama ini kita mengenal jerus nipis bukan ? Tahukan Anda ternyata jeruk nipis dapat dijadikan sebagai Pestisida alami. Khususnya untuk mengusir lalat buah yang menyerang buah / daun pada tanaman kesayangan kita. Dengan kata lain, jeruk napis dapat dijadikan pestisida untuk mencegah serangan hama leaf minner.

    Bagi anda penghobi menanam secara hidroponik pasti tahu bahwa lalat dapat menyebabkan buah-buahan yang kita tanam menjadi rusak, busuk dan tidak jarang menyebabkan kematian pada tananam kesayangan kita ini. Ternyata semua itu disebabkan oleh belatung telur yang diletakaan si lalat pada daun tanaman kesayangan kita.



    anak semai kutilang 1Kuning telur adalah persediaan makanan bagi hari-hari pertama anak-ayam menetas! Lembaga pada benih tanaman yang baru berkecambah sama juga perannya. Pada pangkal akar tunggang, atau juga disebut hipokotil, terdapat akar-akar halus seperti kapas, yang dalam bahasa Sunda disebut “mata rentik”, yang diduga sudah memiliki kemampuan menyerap air dan hara. Bulu-bulu akar inilah yang pertama-tama menyerap air dan hara dari sekelilingnya.
    Bila untuk bulu-bulu akar ini kita sediakan larutan nutrisi, apakah akan diterima dan dimanfaatkan oleh bulu-bulu akar itu untuk menambah jumlah air dan hara yang dapat diserap dan dimanfaatkannya? Menurut pengalaman, hasilnya positif. Didapat anak-semai yang lebih tegap,, berakar lateral bertambah banyak, dan mortalitas/kematian yang hampir tidak ada!


    Sumber karbohidrat jelas berasal dari lembaga, dan bila kita beri pupuk (yang encer, karena bayi hanya sanggup makan bubur yang lunak!), yang berarti kita beri subsidi kation dan anion anorganik, untuk bahan bangunan pembentukan protein bagi pembangunan badan tanaman, jelas kualitas anak-semai lebih unggul. Tegap, gagah, sedikit sekali kematian, pertumbuhan yang cepat, pencapaian kedewasaan yang cepat, kualitas hasil produksi yang aduhay, bobot dan penampilan produk yang unggul, dan rasa serta aroma yang jitu!

    Malahan ada yang menyangka bahwa anak-semai dilarang dipupuk, sebelum berdaun sekian helai. Kalau bebetulan media semai subur dan cukup tinggi kandungan airnya, maka kecambah dengan leluasa tumbuh menjadi anak semai yang tegap, disertai mortalitras/kematian yang rendah.
    Bila media semai secara tidak kebetulan marginal, maka kecambah dan anak-semai yang muncul lemah pertumbuhannya, dan rentan terhadap serangan “penyakit cendawan rebah semai”, yuang terutama disebabkan oleh cendawan Pythium, termasuk Ordo Phycomycetes. Dalam hitungan hari, persemaian punah ludes semuanya, tidak tertolong lagi. Media tanam yang telah terkontaminasi itu, jangan digunakan lagi, dan perlu disterilisasi dengan panas atau dengan bahan kimia, sebelum kita berani menggunakan lagi. Atau media semai, maupun benih yang akan disemai, diperlakukan dahulu dengan bahan kimia sterilisan, dan diberi pupuk untuk “starter” untuk lebih tegar menghadapi penyakit rebah-semai.

    Prasangka, bahwa kalau kita yang semai, tidak bisa diserang oleh penyakit rebah semai, hendaknya dibuang. Lakukanlah pencegahan, dengan perlakuan benih, dengan fungisida, insektisida “seeddressing”, dan dengan pemupukan khusus persemaian.

     

     

    YOS SUTIYOSO : CATATAN PENTING HIDROPONIK : Nomer urut 103.
    PERSEMAIAN DIPUPUK DAHULU SEBELUM BENIH DISEMAI.


    Tanaman kangkung, dengan masa persemaian delapan hari, ditanam di instalasi hidroponik, dengan EC 2,8, dalam 14 hari bisa mencapai tinggi 50 cm, dan sudah layak panen, dan dapat dimasukkan ke dalam kantung plastik setinggi 50 cm, dengan ditekuk sedikit, untuk memungkinkan di-seal panas. Bila ditanam dengan EC 1,5, baru layak panen pada umur > 30 hari.
    Ketika penulis berhidroponik di suburb kota Santa Cruz, propinsi Laguna, Filipina, beberapa tahun yang lalu, di instalasi hidroponik, hanya dalam masa 12 hari bisa dicapai tinggi tanaman 65 cm. Pada waktu itu musim panas, temperatur udara tinggi sekali, dan rupa-rupanya kangkung mentolerir atau malah dikatakan menyukai lingkungan yang tinggi temperaturnya!


    Pada tanaman hidroponik, kebanyakan para petani karena ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas  produksi, maka sering kali dilakukan peningkatan EC. Disisi lain, harus diingat bahwa kita tidak bisa semudah itu meningkatkan angka EC, mengingat ada batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui, yaitu Nilai Ambang Fito-toksisitas. Di atas nilai tersebut, keracunan yang terjadi biasanya gosong pada daun yang menghitam hangus, jaringan mati oleh kepekatan pupuk yang berlebihan.

    Tiap kultivar (cultivated variety) memiliki nilai ambang sendiri. Bisa diterka, bahwa tanaman yang lunak atau sukulen dan banyak mengandung air, nilai ambangnya rendah, dan dengan EC yang rendah telah teracun, dengan gejala gosong, menguning, melayu, daun bergelayutan berkerut, disusul kematian.


    Page 3 of 11

    © 2020 Mjokertocyber Media. All Rights Reserved.

    Please publish modules in offcanvas position.